Ketika Oknum Kiai Dipenjara 13 Tahun

  • Whatsapp

KABAR BANGKALAN | Terdakwa KH Moh Mahattam, pelaku pemerkosaan terhadap santriwati atas nama Siti Mudaroh dijatuhi hukuman 13 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan. Sidang tersebut, dilakukan secara tertutup dan virtual dengan agenda pembacaan putusan di ruang sidang utama pada Senin (24/5/2021).

Ketua Majelis Hakim sekaligus Ketua PN Bangkalan Maskur Hidayat menyampaikan, putusan tersebut diberikan sesuai hasil musyawarah majelis hakim. Bahkan, berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan. “Kami memutuskan sesuai fakta yang ada di persidangan,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, salah satu pertimbangannya perbuatan terdakwa dilakukan lebih dari satu kali. Pertama, saat korban masih anak-anak berumur 16 tahun tepatnya di tahun 2016 dan setelah korban dewasa pada tahun 2019 lalu. “Kami tidak berbicara antara berat atau ringan, tapi ini adalah kewajiban kami memberikan putusan yang adil,” ucapnya.

Untuk merespon hasil putusan tersebut, majelis hakim memberikan waktu berpikir kepada terdakwa maupun jaksa penuntut umum (JPU) untuk upaya hukum selanjutnya. “Kami berikan waktu 7 hari, silahkan tentukan pilihan terbaiknya. Apakah mau menerima atau mau mengajukan upaya hukum lainnya,” terangnya.

Sementara itu, Syamsuddin dari pihak keluarga terdakwa mengaku kecewa terhadap hasil putusan majelis hakim yang melampaui batas tuntutan JPU. Analisanya, kejadian pertama secara hukum pasal 285 tentang pemerkosaan dan pasal 76 perlindungan anak sudah dimentahkan oleh data dari dapodik, bahwa saksi belum masuk di pendidikan yayasan Khawaitul Umam.

“Ini sudah cacat hukum per Maret 2019 lalu, terkait upaya pemerkosaan yang didakwakan, karena tidak masuk dalam pasal 76,” responnya.

Menurut Syamsuddin, hasil visum tidak bisa menjadi bukti kuat karena dapat dimanipulasi oleh siapa pun. Sehingga, ia menilai keputusan hakim tidak memiliki landasan yang jelas, karena siapapun bisa menjadi terdakwa dalam kasus ini. “Telaah analisa barang bukti (BB) kurang kuat, Saksi lemah, dalam surat tidak ada bukti sperma milik terdakwa, lalu apa dasarnya,” kilahnya.

Menanggapi hal ini, Miftahul Khoir kuasa hukum terdakwa menyatakan, akan melakukan diskusi dan mempelajari lebih lanjut hasil putusan. Sehingga dapat menentukan sikap hukum untuk melakukan banding atau tidak. “Kami pelajari dulu amar putusannya, baru nanti akan diketahui apakah banding atau tidak,” tukasnya. (hel/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *