Insentif Guru Ngaji dan Madin Tak Sesuai Harapan

  • Whatsapp
Para guru ngaji dan madin di Kabupaten Bangkalan, baru mencairkan insentif pada triwulan pertama. (Foto: Fain Nadofatul M.)

KABAR BANGKALAN | Insentif bagi guru ngaji dan madrasah diniyah (Madin) di Kabupaten Bangkalan tidak sesuai harapan. Sebab, bulan Mei ini seharusnya sudah memasuki pencairan triwulan ke dua. Namun, para guru ngaji dan madin masih menerima pencairan di triwulan pertama. Salah satu penghambatnya, adanya wabah Covid-19 yang hingga saat ini tidak kunjung selesai.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Bambang Budi Mustika mengatakan, jumlah keseluruhan guru ngaji dan madin sebanyak 9.342 orang. Di masa wabah saat ini, mereka hanya bisa menerima insentif. Sedangkan di tahun sebelumnya, selain insentif mereka juga menerima bantuan dari pemerintah.

Bacaan Lainnya

“Datanya sudah kami verifikasi dengan Dinas Sosial (Dinsos), insentif ini untuk bulan Januari, Februari dan Maret. Terlambat, karena kami harus menyandingkan data dulu dengan Dinsos serta kondisinya yang masih di suasana wabah,” ujarnya, Rabu (26/5/2021).

Berdasarkan data sebelumnya, jumlah guru ngaji dan madin bertambah sekitar 100 orang lebih. Di tahun 2020 kemarin jumlah guru ngaji dan madin hanya 9.232. Namun saat ini, jumlah tersebut mencapai 9.342 orang. “Tentu, adanya penambahan guru ngaji dan madin ini berdasar verifikasi data yang sudah optimal kami upayakan,” tegasnya.

Terpisah, Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron mengatakan, besaran insentif yang diberikan kepada guru ngaji dan madin tidak berubah. Yakni, sama persis sebesar Rp200 ribu sejak program tersebut direalisasikan. Menurutnya, program itu secara rutin dilaksanakan sejak tahun 2018 lalu. “Mereka akan menerima Rp200 ribu per bulan,” responnya.

Bahkan, para guru ngaji dan madin sudah diikutsertakan pada keanggotaan badan pelayanan jaminan sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Bahkan, jika ada salah satu guru ngaji maupun madin yang meninggal dunia, pemerintah berupaya memberikan santunan. “Sejauh ini, belum sepenuhnya guru ngaji dan madin memiliki BPJS Ketenagakerjaan,” tegasnya.

Mengenai penerima, setiap tahun pihaknya melakukan evaluasi agar insentif bisa tepat sasaran. Sehingga, jumlah penerima setiap tahunnya berbeda. Sebab, bisa jadi ada guru yang meninggal atau lainnya. “Data kami evaluasi terus, agar bisa kami alihkan pada guru ngaji dan madin yang belum menerima,” tukasnya. (ina/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *