Meneladani Kepahlawanan Pangeran Trunojoyo

  • Whatsapp

KABAR BANGKALAN | Nama Pangeran Trunojoyo sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Madura. Nama tersebut identik dengan seorang tokoh pejuang asal Pulau Garam. Banyak nilai keteladanan yang bisa dipetik oleh generasi sekarang.

Tidak haran jika pengajuan Pangeran Trunojoyo sebagai pahlawan nasional terus digaungkan oleh banyak kalangan di Madura. Beragam diskusi dan seminar digelar untuk menelisik sepak terjang perjuangan dan pengorbanan Pangeran Trunjoyo selama hidup. Hal tersebut untuk membuktikan kepada publik bahwa dia layak dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Bacaan Lainnya

Seperti diskusi yang dilakukan antara Miftahul Achyar, selaku pegiat literasi, R Mihammad bin Rahmad sebagai budayawan Bangkalan, dan Romli sebagai akademisi.

”Kalau nanti benar-benar menjadi pahlawan Nasional, tetapi masyarakat belum tahu, kan lucu, diskusi ini kita bangun, untuk mengukur sejauh mana, representasi nilai teladan dan moral Pangeran Trunojoyo di era milenial ini,” terang Miftah.

Ia menceritakan, dulu Pangeran Trunojoyo bermaksud akan memerangi Kerajaan Mataram, kemudian mendapatkan bala bantuan dari salah satu tokoh pahlawan dari Makassar, Karaeng Galesong.

Ia menambahkan bahwa Pangeran Trunojoyo tujuannya adalah memberantas VOC dan menumbangkan kerajaan Mataram, dibantu oleh pahlawan dari Makassar tersebut.

”Tragedi orde baru di 1998, kemudian juga upaya perebutan kekuasaan dan strategi politik, semuanya sudah ada sejak dulu, tetapi caranya saja yang berbeda,” tegas Miftah.

Ia memaparkan, bahwa secara histori kita tidak menyimpulkan sejarah dari banyak versi, melainkan kita menemukan beberapa spirit dari beberapa versi. Karena memang sifat sejarah itu intersubyektif. Ada yang berpendapat bahwa Pangeran Trunojoyo adalah pemberontak, namun bagi masyarakat Madura, ia merupakan pahlawan atau pejuang.

Menurut R Muhammad bin Rahmad, meskipun Pangeran Trunojoyo merupakan keponakan Raja Cakraningrat II, yang mana saat itu berada dibawahi oleh Raja Amangkurat I dari Kerajaan Mataram, ia tetap memberontak.

Selain itu, Romli menambahkan, perbincangan mengenai sejarah terus menjadi sesuatu yang beruntut dan membuat penasaran untuk lebih mendalaminya lagi.

”Meskipun ada berbagai referensi literasi yang berbeda, tetapi pada saat perbincangan semua sama,” tuturnya.

Ia menuturkan, upayanya untuk mengenalkan Pangeran Trunojoyo dan menjadikannya sebagai pahlawan nasional haruslah tetap didukung.

”Saya yakin upaya ini akan berhasil melalui semangat milenial. Kita harus mewarisi semangat dan kegigihan Trunojoyo,” pungkasnya. (hel/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *