IGD Penuh, Banyak Pasien Covid-19 di Bangkalan Menolak Dirujuk ke Rumah Sakit Penyangga

  • Whatsapp
MEMASTIKAN: Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Bangkalan Abdul Latif Imron meninjau tempat isolasi tambahan di BPWS Suramadu sisi Madura.

KABAR BANGKALAN|Pasien Covid-19 di Bangkalan terus berdatangan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan. Akibatnya, tempat tidur (TT) yang disediakan penuh dengan pasien yang menunggu hasil pemeriksaan lanjutan swab PCR.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan menambah tempat isolasi atau rumah karantina lagi di ruko Petapan. Lokasinya berada di sebelah utara jembatan Suramadu atau di Kecamatan Labang, Bangkalan.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan oleh Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indra Parawansa dan Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron saat meninjau rumah isolasi di gedung BPWS Suramadu sisi Madura.

Satu titik tambahan di ruko Petapan tersebut merupakan milik warga Bangkalan yang rela dipinjamkan sebagai lokasi karantina. Hasil penyekatan di Suramadu yang terinfeksi Covid-19 langsung dikarantina di lokasi itu. Persiapan agar bisa segera ditempati itu rencananya akan berlangsung sepekan.

“Mudah-mudahan di minggu ini kami Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Bangkalan mempunyai tempat yang cukup apabila terjadi tambahan kasus yang signifikan,” ujarnya, Rabu (16/6/2021).

Fasilitas yang akan diberikan juga akan dipenuhi semua. Mulai dari tempat tidur, air, mandi cuci kakus (MCK) dan logistik. Hal merupakan langkah yang diambil dalam keadaan darurat, yang artinya dalam kegiatan bertugas, tentu saja ada kelemahan saat memenuhi fasilitas para pasien.

“Tapi hak dasar hidup sebagai manusia yakin akan kami penuhi,” tegas Mayjen Suharyanto.

Selain menambah satu titik tempat karantina di ruko Petapan, bersama Pemkab Bangkalan juga menambah ruang karantina di gedung BPWS Suramadu sisi Madura. Lokasi itu saat ini dipenuhi oleh pasien Covid-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG). Jumlah yang dikarantina mencapai 149 orang dari kapasitas 139 tempat tidur.

Tambahan lainnya berupa dibukanya pos karantina di 8 ruko di Tanean Suramadu yang sebelumnya merupakan foodcourt. Lokasi itu juga direncanakan untuk mengisolasi pasien Covid-19 hasil penyekatan di wilayah Bangkalan. Kekuatan 8 foodcourt itu bisa menampung 600 pasien.

Kemudian akan ada fasilitas satu gedung untuk tenaga dokter dan perawat. Lalu satu gedung lagi untuk tenaga pengamanan.

“Tapi bukan berarti gedung BPWS Suramadu ini menjadi rumah sakit lapangan. Hanya sebagai rumah karantina,” tegas komandan militer yang mencakup wilayah Jawa Timur itu.

Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron pada Rabu (16/6/2021) juga melepas 6 pasien Covid-19 dengan status OTG di Balai Diklat atau lokasi isolasi yang selama ini digunakan Pemkab Bangkalan. Mereka dipulangkan karena berdasarkan hasil swab PCR-nya, sudah bersih dari Covid-19.

“Sisa yang masih di rawat di Balai Diklat saat ini ada 56. Sedangkan yang sembuh 6 orang ini berasal dari Kecamatan Arosbaya dan Bangkalan,” jelasnya.

Terpisah, Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan dr Nunuk Kristiani memaparkan bahwa pasien Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakitnya ada sekitar 169 orang. Dimana bed occupancy ratio (BOR) atau ketersediaan tempat tidur untuk perawatan medis pasien Covid-19 sudah mencapai 77 persen.

Tempat tidur yang ada di IGD-pun kini dipenuhi pasien yang menunggu hasil swab PCR, yakni sebanyak 8 orang.

“Tempat tidur juga sudah kami tambah sebanyak 216. Kami tempatkan di asrama mahasiswa milik rumah sakit, untuk khusus nakes dan staf rumah sakit dengan pasien sekitar 35,” terang Nunuk yang juga menjelaskan bahwa masih banyak menghadapi pasien atau keluarganya yang menolak dirujuk ke rumah sakit penyangga di Surabaya.

Kata dr Nunuk, mereka beralasan jika di Surabaya, keluarga sulit menghubungi dan terkendala tempat tinggal keluarga pasien.

Untuk tingkat kematian pasien Covid-19, juga diakui masih cukup tinggi. Dimana dalam sehari bisa ada satu hingga pasien yang meninggal.

“Totalnya ada sekitar lebih dari 35 orang (meninggal) selama sebulan ini. Mudah-mudahan tidak ada lagi ya,” ungkap dr. Nunuk. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *