Pasca Ngamuk di Rumah Sakit, Inspektorat Panggil Sekcam Klampis

  • Whatsapp
Sekcam Klampis, Moh Tajul datangi kantor Inspektorat Bangkalan untuk dimintai klarifikasi atas kegaduhan di RSUD Syamrabu pada Selasa (6/7/2021) lalu. (Foto: Fa'in Nadofatul M.)

KABAR BANGKALAN | Buntut percekcokan antara Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Klampis Moh. Tajul dengan petugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan, harus menyeret Inspektorat Bangkalan untuk terlibat.

Sebelumnya, percekcokan terjadi lantran Tajul menduga istrinya tidak ditangani secara benar. Senin (12/7/2021), Tajul dimintai klarifikasi Inspektorat atas kegaduhannya dengan pihak RSUD Syamrabu pada Selasa (6/7/2021) lalu.

Bacaan Lainnya

Tajul membenarkan alasan pemanggilan itu, yakni klarifikasi. Dia menduga standar operasional prosedur (SOP) telah dilanggar oleh pihak RSUD Syamrabu saat menangani istrinya hingga meninggal. Dia meminta Inspektorat juga bisa memanggil pihak rumah sakit atas kejadian itu untuk diminta klarifikasi.

“Penanganannya itu tidak sesuai, saya minta diangkat bayinya waktu istri sakit, katanya masih diusulkan dan di sana tidak ada dokter kandungan yang memeriksa istri saya selama satu minggu,” kata Tajul mengawali ceritanya.

Kata Tajul, dari hasil pemeriksaan swab PCR, istrinya memang terinfeksi Covid-19. Saat berada di rumah sakit, istrinya hanya ditangani dokter saat pertama kali datang. Selepas itu hanya diperiksa perawat untuk mengontrol kondisi istrinya yang sempat melemah.

Selama perawatan dalam sepekan itu, istri Tajul sempat membaik sebelum disuntik sampai empat kali oleh perawat. Selama di rumah sakit itu juga, istri Tajul tidak diberikan ventilator dan alat pernafasan lainnya. Padahal istrinya mengalami sesak nafas dan butuh ventilator.

“Istri saya hanya diberikan alat bantu seperti oksigen. Awalnya hanya nyeri dan flu, dapat sehari di rumah sakit, tenggorokan sakit. Dia mulai sesak nafas usai disuntik empat kali. Selepas 10 menit, istri saya sesak. Sempat dikasih oksigen, itu pun minta sendiri, sebab istri saya juga nakes, jadi dia tau. Padahal dia juga butuh ventilator,” ungkap Tajul.

Saat mengalami sesak nafas, tidak ada dokter yang memberikan pertolongan dan pemeriksaan.

Begitu pula ketika istrinya sudah kritis, Tajul sempat meminta pada pihak rumah sakit agar bisa menyelamatkan, salah satunya dengan mengangkat anak yang dikandung istrinya itu. Namun, kata Tajul, lagi-lagi perawat mengatakan masih diusulkan. Hingga nyawa istrinya tidak tertolong beserta anaknya.

Sebelum meninggal, Tajul sempat meminta agar istrinya dirujuk. Tetapi pihak rumah sakit tidak kunjung melakukannya. Dia diminta agar menunggu karena masih diusulkan.

“Hingga akhirnya mereka hanya menjawab anaknya tidak bisa diangkat karena masih 7 bulan dan itu yang mengatakan perawat, bukan dokter. Tidak ada dokter yang melakukan pengecekan dan pemeriksaan pada istri saya sampai meninggal,” tutur Tajul mengungkap yang terjadi di detik-detik sebelum istrinya meninggal.

Sedangkan Kepala Inspektorat Bangkalan Joko Supriyono menuturkan, pihaknya memanggil Moh Tajul atas dasar berita dan vidio di media sosial yang bersitegang dengan tenaga kesehatan di rumah sakit usai istri dan anaknya meninggal akibat Covid-19. Dia diperintah oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan Taufan Zairinsjah mengenai kronologis di rumah sakit.

“Kami dudukkan dulu, meminta klarifikasi terkait kejadian dan penanganan di rumah sakit seperti apa sesuai perintah pak sekda,” katanya saat memberi keterangan usai memeriksa.

Joko mengungkapkan, sementara itu pihaknya belum memberikan sanksi terhadap Moh Tajul yang menjabat sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kecamatan Klampis atas kegaduhan yang dia buat. Saat ini, dia hanya melakukan pembinaan dan menggali informasi lebih lanjut.

“Kalau pimpinan nanti menghendaki agar rumah sakit dipanggil, begitu pula dengan pihak pak Tajul menghendaki itu, nanti akan kami mintai keterangan juga, yang jelas kami akan meminta keterangan kedua belah pihak,” ucap Joko.

Sebelumnya beredar video yang memuat Moh Tajul mengamuk di RSUD Syamrabu Bangkalam usai mengetahui istrinya yang hamil 7 bulan meninggal dunia. Dia menduga, istrinya meninggal akibat tidak ada keseriusan rumah sakit dalam menangani pasien dan akibat disuntik empat kali oleh perawat. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *