Selama PPKM Darurat, Ketegasan Petugas Terkonsentrasi di Perkotaan

  • Whatsapp
Para petugas keamanan saat melakukan operasi PPKM darurat di salah satu cafe di Bangkalan. (Foto: Helmi Yahya)

KABAR BANGKALAN | Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Bangkalan sudah menginjak hari ke-10, tetapi petugas mengklaim belum pernah menutup paksa cafe atau restoran yang nekat buka.

Kendati masih ada warung kopi yang ngotot buka saat pengawasan aparat longgar, selama 10 hari PPKM berjalan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bangkalan hanya mengeluarkan somasi dan surat peringatan.

Bacaan Lainnya

Menurut warga asal Kelurahan Kraton, Bangkalan, Akbar Rudiyanto, penerapan PPKM darurat sebenarnya masih tebang pilih. Artinya, tidak semua kecamatan diberlakukan jam malam dan diminta menutup warungnya.

Beberapa kecamatan masih longgar pengawasannya. Sehingga masih ada warung kopi yang masih buka dan berpeluang menimbulkan keramaian.

“Saya kira ini yang kadang menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat,” ulasnya.

Sementara itu, Sekretaris Satpol PP Bangkalan Ari Murfianto menyampaikan, awal mula PPKM darurat diberlakukan, memang masih banyak toko, cafe atau restoran yang masih nekat membuka usahanya hingga melewati batas jam malam. Namun kini diklaim berkurang.

Selama 10 hari pelaksanaan PPKM darurat dilakukan, kesadaran masyarakat untuk mengikuti aturan pemerintah diklaim sudah mulai muncul. Sehingga meski banyak yang sebelumnya mendapatkan peringatan, para pengusaha tidak berani melakukan kesalahan yang sama.

“Kami kan juga bertahap memberikan dalam sanksi dan peringatan,” tutur Ari mengklarifikasi.

Jika pemilik usaha sudah mendapatkan arahan, kemudian masih mengulangi lagi, pihaknya akan memberikan teguran berupa somasi. Lalu jika masih mengulangi lagi, maka usahanya bisa ditutup.

“Selama ini di Bangkalan belum ada, karena sampai hari ini kami masih hanya mengeluarkan somasi,” sambung Ari yang juga menegaskan bahwa penegakannya juga dibantu dengan dipadamkannya penerangan jalan umum (PJU) di jalan utama perkotaan.

“Kalah masih ada warung yang buka meski keadaan gelap begitu, pastilah sepi,” jelasnya.

Meski begitu, mantan sekretaris Badan Kepegawaian dan Sumberdaya Aparatur Daerah (BPKAD) Bangkalan itu juga mengakui memang masih ada warung kopi yang kembali buka saat pengawasan petugas usai. Hal itu dinilai wajar, karena meskipun mereka buka, setidaknya tidak menimbulkan keramaian dan mobilitas sosial.

“Kalau sudah larut, setidaknya tidak terlalu menimbulkan keramaian,” pungkas Ari. (hel/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *