Kepercayaan Warga terhadap Petugas Kesehatan Rendah

  • Whatsapp
Masyarakat yang mencari nafkah dari hasil berdagang di alun-alun Kota Bangkalan kemarin. (Foto: Helmi Yahya)

KABAR BANGKALAN | Badan Pusat Statistik (BPS) Bangkalan mengungkapkan angka Harapan Lama Hidup (HLH) Kabupaten Bangkalan masih berada pada usia 7,18 tahun. Setelah tahun sebelumnya masih berada pada usia 7,11 tahun.

Angka tersebut, sebagaimana disampaikan Kasi Neraca Wilayah dan Analisis BPS Bangkalan, Yenny Repeliyanti, sebagai bukti bahwa kondisi kepercayaan masyarakat terhadap petugas kesehatan masih lemah. Sehingga membuat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tetap berada di urutan ke 37 sejak 11 tahun lalu.

Bacaan Lainnya

Yeni, panggilan akrabnya menjelaskan, bahwa indikator kesehatan merupakan salah satu point data yang menjadi bahan kajian untuk menentukan prestasi IPM setiap daerah.

“Usia hidup saat lahir ini juga akan menjadi point pertimbangan perkembangan suatu daerah,” katanya.

Kata Yeni, jika melihat dari sisi kesehatan, kemungkinan bayi lahir hidup sehat dan bisa mencapai hidup sampai usia berapa. Juga harus dijamin kesehatan dari ibu hamil hingga lansia. Sedangkan di beberapa daerah di Bangkalan, proses persalinan selamat tergolong masih rendah.

”Pernah di Kwanyar, ada bayi lahir meninggal karena tidak cepat tertangani proses persalinannya. Bisa dari kesadaran masyarakat yang kurang memperhatikan kesehatan, mulai pemeriksaan kehamilan sampai persalinan,” tuturnya.

Semua Kabupaten punya target menaikkan IPM. Untuk mengubah urutan posisi di Jawa Timur, Kabupaten Bangkalan harus meningkatkan dari ketiga indeks tersebut. Dari sisi pendidikan, harus ditekankan kepada masyarakat bahwa pendidikan sangat penting.

“Jika ingin naik peringkat, tentu semua sektor itu harus berkembang bersama, mengingat perhitungannya menggunakan akumulasi,” ulasnya.

Akademisi UTM, Mariya Ulfa, meminta agar pemerintah tidak hanya membiarkan tingkat pendidikan hanya sampai tingkat SD atau SMP. Diusahakan anak usia sekolah di Bangkalan berhak untuk mendapat pendidikan hingga jenjang SMA atau bahkan kuliah.

”Ini bukan hanya melihat masyarakat perkotaan saja, tetapi seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Bangkalan di seluruh kecamatan,” jelasnya.

Sedangkan menurut Sudiyo, upaya untuk menyadarkan masyarakat agar mempercayai tenaga kesehatan masih sulit. Sebab, masih banyak praktik dukun beranak yang memang masih dipercaya dan memang dapat diandalkan di masyarakat.

“Kami sudah mengupayakan untuk mempromosikan ini, tapi memang karakter masyarakatnya juga sulit,” terangnya.

Melalui pelayanan di Polindes atau puskesmas serta bidan yang disebarkan di setiap desa, Sudiyo menginginkan masyarakat bisa mempercayakan perawatan bayi dan ibu bersalin secara tepat. Setidaknya konsultasi dengan para tenaga kesehatan.

“Kalau ini bisa direalisasikan saya kira IPM kita bisa naik,” pungkasnya. (hel/bri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *